Dokumentasi Ragam
Kesenian & Budaya Maluku Utara

LESTARI MALUT

Tentang Kami

Tentang Lestari Malut

Lestari Malut adalah sebuah platform digital yang berfungsi sebagai wadah berbagi informasi, dokumentasi, dan pengetahuan mengenai adat, budaya, serta kearifan lokal yang hidup dan berkembang di wilayah Maluku Utara. Website ini dibangun dengan semangat pelestarian nilai-nilai budaya, serta mendorong generasi muda untuk mengenal, mencintai, dan menjaga warisan leluhur agar tetap lestari sepanjang masa.

Lokasi

Maluku Utara

Alamat Komunitas

Ternate
Maluku Utara

Galeri Budaya Maluku Utara

Koleksi gambar dokumentasi budaya, kesenian, dan tradisi Maluku Utara

Budaya Maluku Utara

Eksplorasi tradisi, kesenian, dan kuliner khas Maluku Utara.

Budaya Ternate kaya akan ritual adat, seni pertunjukan, dan cita rasa kuliner yang mewakili kearifan lokal masyarakat kepulauan.

DAERAH

KOTA TIDORE

Alat Musik Tradisional Tidore (Tifa)

Tifa merupakan alat musik perkusi yang sering digunakan dalam ritual masyarakat Tidore. Tifa terbuat dari batang pohon palem atau sejenisnya, selain itu batang kelapa atau batang pohon yang memiliki rongga bagian tengah juga sebagai bahan dasar pembuatan tifa. Dari hening batang kayu itu, tercipta rongga yang kelak menjadi rumah gema. Kayu dipilih bukan hanya karena kuat, tetapi karena menghasilkan bunyi yang bergema.

Alat Musik Tradisional Tidore (Tifa)

DAERAH

KOTA TIDORE

TARI SOYA- SOYA-SELI TIDORE

Tari soya-soya seli merupakan salah satu tarian tradisional penting dalam tradisi Kesultanan Tidore. Tarian ini memiliki dua wajah makna yakni 1) sebagai tarian sakral yang terkait dengan rahasia soa dan ritus istana; 2) sebagai tarian heroik yang menggambarkan perjuangan Sultan Nuku beserta pasukannya.
Dua aspek ini muncul karena tradisi tari soya seli berkembang dalam dua konteks berbeda: ritus istana (adat) dan narasi kepahlawanan (sejarah perjuangan Nuku). Keduanya sama-sama diterima sebagai bagian dari warisan budaya masyarakat Tidore. Tarian ini biasanya ditampilan pada acara-acara kesultanan seperti menyambut sultan, hari jadi kota Tidore hingga upacara adat paji nyili-nyili.

TARI SOYA- SOYA-SELI TIDORE

DAERAH

KOTA TIDORE

Tari Lalayon: Akar Sejarah, Transformasi Budaya, dan Makna Sosial

Sebagaimana seni-seni tradisi yang lahir dari relasi antara manusia, alam, dan struktur kekuasaan kesultanan di Maluku Utara, Tari Lalayon merupakan salah satu bentuk kesenian yang tumbuh dari peradaban masyarakat Gam Range (Weda, Patani, dan Maba). Kehadirannya bukan sekadar hiburan rakyat, tetapi menjadi bagian dari narasi besar hubungan antara masyarakat Halmahera dan Kesultanan Tidore. Karena masyarakat Gam Range pernah menjadi Sangaji (kepala wilayah) dari Kesultanan Tidore, maka kesenian yang mereka bawa termasuk Lalayon sering dipentaskan juga di kadaton sebagai persembahan hiburan dan penghormatan.

Tari Lalayon: Akar Sejarah, Transformasi Budaya, dan Makna Sosial

TARI SALAI JIN TIDORE

Tari Salai Jin adalah warisan sakral masyarakat Tidore, lahir dari pertemuan sunyi antara adat, keyakinan, dan dunia gaib. Ia tidak tercipta untuk hiburan tetapi ritus balas budi atas segala keberhasilan dalam peperangan, kedamaian, bercocok tanam, hingga pengobatan yang diyakini bersumber dari sebuah perjanjian antara manusia dan makhluk halus. Dalam tradisi tidore, tarian ini disebut “rebean”, sebuah “ramaian” yang justru memilih kesepiannya sendiri. Salai Jin bukan seni panggung; ia hadir hanya ketika dibutuhkan, dan dimaknai sepenuhnya oleh mereka yang mewarisi pengetahuan leluhur. Seiring waktu, tarian ini kemudian berkembang dan mulai ditampilkan dalam berbagai pesta rakyat atau acara pembukaan, tanpa kehilangan jejak sakral yang menyertai asal-usulnya.

TARI SALAI JIN TIDORE

TARI SALONDE TIDORE

Tari Salonde bukan sekadar gerak indah yang ditampilkan untuk hiburan. Ia adalah bahasa simbolik yang menghubungkan manusia dengan alam, leluhur, dan kekuatan sakral yang menjaga negeri Tidore. Dari Gurabunga—kampung adat yang sarat jejak spiritual—Salonde tumbuh sebagai warisan yang menyatukan ingatan warga terhadap dunia yang tampak dan dunia yang tak terlihat.
Bagi orang Tidore, negeri adalah gam magahu, pulau yang bertuan, tempat manusia dan makhluk halus hidup dalam keseimbangan, dan Sultan menjadi jembatan yang menyatukan dua alam itu. Dalam pandangan kosmologis seperti inilah Tari Salonde memperoleh tempatnya. Ia hadir bukan hanya sebagai seni pertunjukan, tetapi sebagai seni kebesaran yang menjaga martabat adat dan menguatkan wibawa Kesultanan Tidore.

TARI SALONDE TIDORE

TARIAN LEGU-LEGU (LEGU KADATO)

Tarian Legu-Legu, yang dalam konteks keraton disebut secara khusus sebagai Legu Kadato, merupakan tarian klasik sakral yang hanya hidup dan dipentaskan di lingkungan Keraton Kesultanan Ternate. Istilah Legu Kadato digunakan untuk membedakannya dari Legu Gam, yakni perayaan tahunan pesta adat atau pesta negeri yang bersifat lebih profan dan melibatkan masyarakat luas.

TARIAN LEGU-LEGU (LEGU KADATO)

DAERAH

KOTA TERNATE

BARAMASUWEN (BAMBU GILA)

Baramasuwen, yang lebih populer dikenal sebagai Bambu Gila, merupakan salah satu permainan rakyat tradisional masyarakat Ternate dan Maluku Utara yang sarat dengan unsur magis dan ritual. Pertunjukan ini menggunakan medium utama berupa sebatang bambu, mantra-mantra, serta perlengkapan ritual seperti kemenyan, bara api, dan jahe.
Dalam konteks budaya lokal, Baramasuwen bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah pertunjukan yang memperlihatkan interaksi manusia dengan kekuatan gaib yang diyakini berasal dari roh leluhur.

BARAMASUWEN (BAMBU GILA)

Ritual Aqiqah: Jejak Syukur dalam Budaya Tidore

Salah satu prosesi penting dalam aqiqah adalah ngofa ma hoa, yakni pengguntingan rambut pertama bayi. Rambut tersebut dianggap membawa beban awal kehidupan yang harus ditanggalkan agar bayi memasuki dunia dengan kesucian lahir dan batin (Wwc Faruk, 2025). Hal ini sejalan dengan anjuran Rasulullah SAW untuk mencukur rambut bayi sebagai bagian dari penyempurnaan aqiqah (Al-Nawawi, 2002).

Ritual Aqiqah:  Jejak Syukur dalam Budaya Tidore

DAERAH

KOTA TIDORE

Echoes of Tidore: Cerita Leluhur dalam Sastra Lisan

Sastra lisan merupakan salah satu denyut nadi budaya Tidore, warisan turun-temurun yang mengalir melalui kata, irama, dan kisah. Ia tidak hanya menjadi medium penyampai pesan, tetapi juga menjadi ruang tempat masyarakat belajar memahami diri, menghormati sesama, dan menjaga hubungan dengan alam serta Sang Pencipta. Dalam tradisi tutur ini, tersimpan kearifan lokal yang membangun karakter masyarakat Tidore dari masa ke masa. Ia bagai cahaya yang terus menyala, kendati zaman berubah dan dunia bergerak cepat.

Echoes of Tidore: Cerita Leluhur dalam Sastra Lisan

Mitra & Sponsor

Terima kasih kepada para mitra dan sponsor yang mendukung pelestarian budaya Maluku Utara

Kontak Kami

Alamat

Jl. Raya Ternate, Kec. Ternate Selatan, Kota Ternate, Prov. Maluku Utara
Loading
Your message has been sent. Thank you!